Nugroho Technology

Menggali Makna Dalam Setiap Kata

[CatPer] Perjalanan Menuju Dewi Anjani

leave a comment »

Mimpi ingin menginjakan kaki di tanah tertinggi ke dua di Indonesia akhirnya terwujud juga, walau dengan perjuangan yang ekstra :D.  Berawal dari obrolan singkat dengan teman di Bandung akhirnya aku memutuskan untuk ikut gabung di pendakian Gunung Rinjani. Meeting point di tentukan di Mataram dan akhirnya kita ketemu di rumah Mas Lalu Budi, rekan kang Adi dan Mas Ganar di Desa Sukarare, Lombok Tengah.

Rabu, 25 Desember 2013 dengan kondisi hujan rintik-rintik kami di antar oleh Mas lalu sampai pertigaan pasar Aikmel, di sini kami melengkapi perbekalan selama pendakian. Dengan menggunakan angkutan bak terbuka kami menuju Desa Sembalun Lawang yang merupakan desa terakhir sekaligus pos masuk Gunung Rinjani.

Puncak Gunung Rinjani terlihat gagah dari Desa Sembalun

Puncak Gunung Rinjani terlihat gagah dari Desa Sembalun

Sepanjang perjalanan mata kami di suguhi oleh pemandangan yang menyejukan mata, pepohonan di kanan kiri jalan, juga keramahan para warga sini. Ibu Jawariah yang satu angkutan bersama kami, memberi 3 buah mangga, ya….lumayan rezeki buat tambahan bekal perjalanan 😀

Pos Pendakian

Tepat pukul 10.00 WITA akhirnya kita sampai di pos pendakian, Kang Adi yang mengurus administrasi pendakian. Katanya sih tiket masuknya Cuma 2500 rupiah 😀  Dari sini pendakian di mulai, lewat jalur Sembalun memang lumayan menguras tenaga, jalur yang landai dan panjang, disertai dengan sedikit tanjakan. Jujur, mental ku di uji di sini, sempat muncul keraguan

“Sampe puncak gak ya??”  gumam ku dalam hati.

Persiapan yang kurang matang juga berpengaruh ke fisik ku, cpet capek dan habis nafas :p Alhasil aku banyak di tinggal-tinggal sepanjang perjalanan 😀

DSCN0749

Ketinggalan… 😀

Sampai di jembatan pertama, kami mengambil air untuk cadangan perbekalan kita. Lagi-lagi kang Adi yang ngurusin, sambil nunggu Kang Adi ngambil air, aku istirahat mulihin nafas yang masih hah…heh…hoh… :D. Setelah di rasa cukup, kita kembali melanjutkan perjelanan, kebetulan bertemu dengan para pendaki yang lain dan jadilah satu rombongan, lumayan nambah temen baru.

Ngambil Air...

Ngambil Air…

Pos 1 sudah di depan mata...

Pos 1

 

 

 

 

 

 

 

 

Pukul 13.00 WITA akhirnya sampai juga di Pos 1, kami memutuskan untuk istirahat dan sholat. Sambil istirahat di Pos 1 kami berbicang-bincang dengan beberapa pendaki yang baru turun. Seorang bapak separuh baya bercerita mengenai pengalamannya mendaki, frame tendanya patah di terjang badai, dan alhasil gakbisa muncak. Memang rata-rata para pendaki pendahulu kami tidak ada yang sampai puncak karena cuaca beberapa hari kebelakang selalu turun badai. Kembali mental di uji, “Sampai puncak gak ya???”.

Jalur menuju pos 2, landai tapi pasti :p

Jalur menuju pos 2, landai tapi pasti :p

Setelah istirahat cukup dan tenaga dirasa telah pulih lagi, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 2.  Trek menuju Pos 2 masih sama, landai dan sedikit menanjak. Sepanjang perjalanan aku masih berpikir “bisa sampai puncak gak ya…” ternyata kegalauan ku terbaca juga oleh Kang Adi, beliau menyarankan untuk kembali memperbaiki niat dan menguatkan mental. Yah…memang itu yang diperlukan ketika naik gunung. “mendaki gunung adalah sarana untuk mendekat kepadaNya, Bismillahitawakaltu Allalah, lahaula wala kuwata ‘illa billah” niat sudah dipancangkan, kembali tancap gas, tapi tetep jadi paling “boyot” masih saja i tinggal-tinggal oleh rombongan :p. Pukul 15.00 WITA kami sampai di Pos 2, istirahat sebentar langsung tancap gas lagi karena target kita camp di Pos 3.

Istirahat di Pos 2

Istirahat di Pos 2

Samar-samar warna warni tenda terlihat, akhirnya pukul 17.00 WITA aku sampai di Pos 3. Kang Adi dan Mas Ganar sudah sampai duluan, Aku istirahat mengatur nafas. Setelah nafas stabil kami membagi tugas, ada yang meratakan tanah, untuk alas tenda, ada yang beres-beres, ada yang ngambil air. Tenda sudah berdiri, dan kang Adi sudah asik memasak untuk ngasih makan cacing-cacing yang sudah protes sedari tadi :D. Kami ngecamp satu malam di Pos 3, untuk recovery kondisi badan yang sudah kelelahan. Selesai shalat dan makan, tanpa ba…bi…bu…kami langsung istirahat tidur.

Tenda-tenda Pos 3

======================

Matahari tanggal 26 Desember membangunkan kami, setelah selesai makan dan peregangan kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya Pos Plawangan Sembalun. Medan menuju Pos Plawangan Sembalun lumayan menguras tenaga ekstra, maka dari itu perbekalan dan kondisi fisik harus full.  Menuju Pos Plawangan Sembalun kita akan melewati bukit penyesalan yang ada 7 tanjakan kstrem katanya…

Tenda kami...

Tenda kami…

Jalur menuju Plawangan Sembalun

Jalur menuju Plawangan Sembalun

dinamakan bukit penyesalan karena menurut cerita setempat dulunya ada seorang pendaki lokal yang melewati bukit ini, karena teramat lelahnya pendaki ini mengatakan “nyesal saya naik gunung ini” alhasil pendaki ini tidak jadi meneruskan perjalanan dan kembali turun…kata2 pendaki ini ternyata menjadi buah bibir masyarakat setempat dan mulai saat itulah bukit ini dinamakan bukit penyesalan oleh penduduk setempat s/d saat ini.

Yap…bukit penyesalan ini memang sangat terkenal di kalangan para pendaki Gunung Rinjani.  Tidak ada bonus di track ini, semua jalur tanjakan. Seperti biasa aku kembali di tinggal 😀  Setelah perjuangan panjang, dengkul ketemu dengan dada akhirnya sampai juga di tanjakan terakhir. Pemandangan Danau Segara Anakan terlihat dibalik kabut. Rasa lelah tiba-tiba hilang setelah melihat ciptaanNya.

IMG_2379

Senyum getir di Danau Segara Anakan

IMG_2428

Danau Segara Anakan, kayak d lukisan gan… 😀

Kapan Mrene bro...

Kapan m’rene bro…

Aku istirahat sebentar dan mengambil beberapa momen, ternyata Pos Plawangan Sembalun masih sekitar 30 menit lagi dari tempat aku istirahat heu… Melihat tenda warna-warni membuat semangat untuk sampai Pos Plawangan Sembalun mengelora 😀

Pukul 14.30 WITA aku sampai  juga di Pos Plawangan Sembalun. Hilang sudah rasa capek ketika disuguhi pemandangan Danau Segara Anakan. Puncak Anjani terlihat gagah di belakang tenda kami. Tenda kuning berdiri, semua logistik dan tas kami masukan. Persediaan air menipis, seperti biasa kami membagi tugas kembali, aku dan Mas Ganar ngambil air dan Kang Adi masak.  Ternyata tempat untuk mengambil air jauh juga broooo… Kurang lebih 30 Menit dari tenda kami berdiri dengan jalur yang naik turun, belum sembuh kaki ini melewati  tujuh tanjakan di bukit penyesalan ternyata masih harus naik turun untuk ngambil air 😀

Tenda kami, tepat d belakang Puncak Anjani :)

Tenda kami, tepat d belakang Puncak Anjani 🙂

Pemandangan Danau Segera Anakan memanjakan mata kami, beberapa spot aku coba abadikan sambil bercengkrama dengan sesama pendaki lainnya….

===== Bersambung ====

Advertisements

Written by Priyatno Nugroho

09/02/2014 at 16:32

Mobile Unit, Solusi Pemenuhan Air Bersih

leave a comment »

Oleh

Priyatno Nugroho

Air merupakan kebutuhan primer bagi manusia untuk minum, mandi,  cuci dan kegiatan lainnya. Ketersediaan air bersih di tiap daerah di Indonesia sangatlah penting, namun tidak semua kawasan di negeri ini mendapatkan akses air bersih yang merata. Dari tahun ke tahun laju pertumbuhan Sumber Daya Manusia di Indonesia pun semakin pesat sehingga membutuhkan banyak ruang publik yang dipakai, hal ini menyebabkan semakin besar pula kebutuhan akan air bersih di Indonesia.

Tata kelola kota di Indonesia yang masih buruk, ditambah lagi dengan menipisnya cadangan mata air karena pembangunan besar-besaran yang kurang memperhatikan dampak dari segi lingkungan belum lagi pembalakan hutan yang makin merajalela, menjadikan sebuah permasalahan tersendiri bagi negeri ini. Cadangan mata air kian hari semakin menipis sehingga menyebabkan debit air di hulu sungai dan sumber-sumber air lainnya.

Tercatat di beberapa daerah seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta yang sering mengalami bencana kekeringan akibat kemarau panjang, sehingga air pun sulit untuk didapat. Perlu adanya sebuah terobosan di bidang rekayasa IPTEK sebagai solusi untuk mengatasi krisis air bersih.

Kementerian Pekerjaaan Umum sebagai kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada pemerintah yang dalam misinya menyelenggarakan pengelolaan SDA secara efektif dan optimal untuk meningkatkan kelestarian fungsi dan keberlanjutan pemanfaatan SDA serta mengurangi resiko daya rusak air.

Untuk mengurangi resiko daya rusak air, maka Kementerian Pekerjaan Umum mengembangan sebuah teknologi terapan berupa alat pegolahan air bersih yang diberi nama Mobile Unit. Alat ini dapat mengolah air baku menjadi air bersih yang layak untuk digunakan sehari-hari.

Penggunaan Mobile Unit menjadi sebuah solusi untuk sebuah wilayah yang mengalami kesulitan air bersih. Mobile Unit merupakan sebuah instalasi pengolahan air bersih yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman – Kementrian Pekerjaan Umum. Dengan menggunakan sistem mobile, instalasi pengolahan air bersih ini sangat cocok untuk daerah yang masih rawan air bersih, daerah yang belum teraliri oleh PDAM, dan pemenuhan kebutuhan air pasca bencana alam.

Keunggulan dari Mobile Unit dengan sistem pengolahan air bersih lainnya terletak pada sistemnya yang bisa mobile karena dilengkapi oleh kendaraan mini truk. Cara kerja sama dengan sistem pengolahan air bersih lainnya.

Cara kerja pengolahan air pada Mobile Unit yaitu pertama, air baku dipompa dan masuk kedalam bak flokulator/koagulator yang berfungsi untuk proses destabilisasi partikel koloid pada air dengan penambahan bahan kimia.  Setelah melalui proses pada bak koagulator, selanjutnya air masuk ke tangki pengendap, tangki ini berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang sudah didestabilisasi. Pada tangki ini air dan partikel-partikel koloid akan terpisah dan selanjutnya air yang sudah tersaring dipompa menggunakan pompa filter untuk selanjutnya masuk kedalam proses filtrasi untuk menyaring media berbutir seperti pasir, atau media lainnya.

Setelah melalui proses filtrasi, air masuk kedalam proses selanjutnya yaitu Kation Exchanger yaitu penambahan disinsfektasi, biasanya menggunakan penambahan chlor, ozonisasi  dan pemberian UV untuk  menghilangkan bakteri yang terdapat di air yang di olah. Setelah selesai proses Kation Exchanger selesailah proses pengolahan air bersih ini, biasanya air akan ditampung di dalam tangki penampungan air sebelum didistribusikan ke warga.

Mobile Unit ini telah diujikan di beberapa daerah, terutama pada daerah-daerah bencana alam seperti pada saat letusan gunung Merapi, proses recovery pasca tsunami Aceh, banjir Jakarta dan beberapa daerah lainnya.

Written by Priyatno Nugroho

14/11/2013 at 14:44

Posted in Coretan

PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU SEMAMPUKU

with 2 comments

tali-cinta2

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para Nabi.
Tentang kasih para sahabat.
Tentang mahabbah para sufi.
Tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam.
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Tapi Ya Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari,bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang.
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…

Wahai Illahi,
Kemudian berbilang detik, minit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi
dan menegakkan jiwaku kembali.
Menatap, memohon dan menghiba-Mu…

Allahu Rahiim, Illahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu, Semampuku

Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintai-Mu Sebolehku
Dengan segala kelemahanku.

Ya Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al Musthafa.
Kerana itu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku.
Ya Rabbii,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar,
yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan Rasul-Mu bagi diri dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separuh harta demi jihad.
Atau Uthman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan din-Mu.
Izinkan aku mencintai-Mu, melalui seringgit-dua yang terulur
pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di tepi jambatan.
Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ya Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan khusyuknya solat salah seorang shahabat Nabi-Mu hingga tiada terasa anak panah musuh menujah di kakinya.
Karena itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Ya Rabbii,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,
yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu.
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku.

Yaa Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Maha Rahiim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah,
yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya Din-Mu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segalanya.
Izinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

~A. Musthofa Bisri.~

Sumber :

http://welingsang.blogspot.com/2012/04/kumpulan-syair-dan-puisi-gus-mus.html#

 

Written by Priyatno Nugroho

18/02/2013 at 00:15

Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia

leave a comment »

Dengan pertimbangan isi tulisan yang menginspirasi saya, juga mungkin juga yang lain, saya coba repost email dari milis salah satu teman tentang kunjungan Pak Habibie ke Manajemen PT. Garuda Indonesia Tahun 2012 lalu. Tulisan ini mungkin bagi beberapa orang sudah membacanya,tapi tetap bagi saya tulisan ini sedikit banyak memberikan Ruh untuk calon perusahaan yang sedang merangkak, yang terinspirasi dari QCD (Quality, Cost, Delivery) nya Pak Habibie terapkan di IPTN saat beliau menjabat sebagai Menristek di jaman Orde Baru. berikut tulisannya…

BJ Habibie

BJ Habibie

Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-

escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan. Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

Dik, anda tahu, saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik, anda semua lihat sendiri N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua ?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya…

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

“Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten. C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik, organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu …

“Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…saya mau kasih informasi. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang. Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan…

“Dik, kalian tau 2 minggu setelah ditinggalkan ibu suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu, Ainun … Ainun … Ainun … saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus.

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga…

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu)  ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.
Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata. Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif.”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,

Capt. Novianto Herupratomo

Sumber : http://www.ronywijaya.web.id/2012/01/kunjungan-habibie-ke-garuda-indonesia.html

Written by Priyatno Nugroho

12/02/2013 at 18:16

Kerja Keras

leave a comment »

Warga Kampung Tambleg pulang dari ladang

Warga Kampung Tambleg pulang dari ladang

Kamis, 20 Desember 2013 aku yang berniat ikut Pak Sona untuk menyadap pohon aren gagal sudah, ternyata pagi-pagi buta pak Sona sudah pergi untuk menyadap pohon aren. Sehingga aktivitas kamis yang biasa di isi dengan ikut induk semang membantu ke sawah aku alihkan ke kebun belakang sekolah SMPN Satu Atap 8. Kami memang sedang melakukan pembibitan untuk program apotik hidup. Selesainya di kebun aku istirahat di warung dekat sekolah dan bercengkrama dengan pemilik warung. Sembari bercengkrama sembari melihat orang-orang lalu lalang, ada yang pergi ke sawah dan kebun, ada yang pulang dari ladang dengan membawa hasil bumi yang baru di panen, ada yang pulang membawa kayu bakar dan aktivitas-aktivitas lainnya.

“Bu, apa aja yang dikerjain warga di sawah, kok tiap hari ada saja kerjaannya” tanyaku kepada ibu warung

“Macem-macem, sep. Ada saja kerjan disawah mah, walaupun cuma memupuk atau menyiangi rumput” jawabnya.

Yaa… memang selama di kampung Tambleg aku melihat semua warganya rata-rata petani, dan mereka bekerja ke sawah atau ladang dari subuh sampai magrib. Jika dilihat kok gak ada capek-capeknya mereka bekerja. Aku jadi teringat kata-kata kakekku di Yogyakarta sana, “Ürip nang ndeso kuwi gampang, asal gelem nyambut gawe1

Memang betul kata kakekku, hidup di desa itu memang gampang asal mau bekerja keras, dan hal tersebut di buktikan oleh warga Kampung Tambleg. Kalau kata Pak Jana, orang tua angkatku di Kampung Tambleg, “hidup di desa itu gampang kalau mau makan tinggal metik di ladang, beras gak usah beli tinggal tunggu di panen, namun semuanya itu butuh kerja keras untuk mengolahnya, kalau berleha-leha ya tidak akan dapat apa-apa.”

Selama di Kampung Tambleg aku banyak belajar tentang arti sebuah kerja keras dari para warganya, bagaimana mereka menghidupi keluarganya mulai dari subuh sampai maghrib, memutar otak bagaimana agar sawah atau ladangnya bisa menghasilkan uang untuk menghidupi keluarganya.

Bekerjalah, biarkan Allah dan RasulNya yang melihat kerja-kerjamu…

Salam Inspirasi….

 

1 Hidup di desa itu gampang, asal mau kerja keras

Tambleg, 20 Desember 2012

Priyatno Nugroho

Written by Priyatno Nugroho

12/02/2013 at 17:19

Sinyal…oh Sinyal…

leave a comment »

Pencarian Sinyal Handphone :D

Pencarian Sinyal Handphone 😀

Sebuah kampung dengan jalan tanah merah dan berbatu dengan kontur daerah yang berbukit-bukit dengan udara yang masih sejuk dan asri. Berjarak 150 km dari kota Bogor, dengan waktu tempuh kurang lebih 7-8 jam. Kampung Tambleg, sebuah kampung yang berada di selatan Kabupaten Lebak Provonsi Banten merupakan sebuah kampung yang masih memegang erat adat istiadatnya.

Perjalanan ke Kampung Tambleg merupakan sebuah perjalanan hari dan hati, sebuah perjalanan yang mengaktualisasikan ilmu-ilmu kita secara nyata di lingkungan masyarakat sekaligus sebagai miniatur di daerah penempatan nanti. Kampung Tambleg merupakan daerah yang berbukit-bukit dan berada di lembah sebuah gunung sehingga sinyal telekomunikasi pun relatif sulit. Namun memang hal tersebut tidak terlalu penting bagi warga Tambleg, karena tipikal orang desa biasa mengkomunikasikan sesuatu dari mulut ke mulut dan ternyata informasinya lebih cepat sampainya. Berbeda dengan aku, hari pertama di sana lumayan membuat galau karena saat melihat indikator sinyal di handphone ternyata tak ada satu bar pun, aku berpikir sepertinya aku berada di daerah blankspot, sebuah istilah untuk daerah yang tidak ada sinyal telekomunikasi.

Setelah beberapa hari di sana melihat beberapa warga yang menyimpan handphonenya di jendela, ternyata alasannya agar ada sinyal. Setelah handphone ku di tempelkan di kaca jendela memang beberapa bar sinyal mulai muncul di  layar indikator sinyal. Sehingga kebiasaan baru yang paling aku senangi di Kampung Tambleg adalah memandangi jendela sekaligus menunggu datangnya kabar dari kota sebrang. Hmm… sempat berfikir dan bertanya-tanya juga apa hubungannya kaca jendela dengan proses penerimaan sinyal, tapi ternyata aku jadi ingat sebuah mata kuliah saluran transmisi bahwa kaca merupakan salah satu media dalam proses transmisi. Karena terhalang oleh pegunungan sehingga pancaran sinyal dari BTS memantul ke segala arah dan hasil pantulan tersebut ada yang memantul ke pepohonan besar, tebing-tebing dan kaca jendela menjadi salah satu pantulannya. Itulah jawaban ilmiah mengapa handphone di Kampung Tambleg ketika di tempelkan di jendela bisa menangkap sinyal.

Written by Priyatno Nugroho

10/01/2013 at 16:21

Puncak Abadi Para Dewa [Resensi Film 5 cm]

with 8 comments

cover-5cmGantunglah Mimpi di depan Keningmu. Kalau sudah begitu, mereka percaya bahwa semestinya: kaki untuk berjalan lebih jauh, tangan untuk berbuat lebih banyak, mata yang menatap lebih lama, leher yang lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang bekerja lebih keras, serta mulut yang selalu berdoa.

“17 Agustus di puncak tertinggi Jawa, 5 sahabat 2 cinta, sebuah mimpi mengubah segalanya”.

Mereka adalah Genta (Fedi Nuril), Zafran (Herjunot Ali), Arial (Denny Sumargo), Ian (Igor Saykoji) dan Riani (Raline Shah), lima orang sahabat yang sudah menjalin persahabatan dengan berbagai hal-hal uniknya. Genta seorang project leader sebuah perusahaan EO yang brilian, Genta selalu berhasil menelorkan ide-ide yang tidak mungkinnya menjadi kenyataan. Zafran seorang sastrawan pengagum W.S Rendra dan seorang desain grafis, ditanggannya syair-syair indah selalu muncul namun selalu di acuhkan dan jadi bahan olok-olok teman-temannya. Arial si badan atletis yang selalu rajin fitnes, penyuka kecap namun paling anti dan tiba-tiba menjadi grogi jika diajak kenalan dengan lawan jenis. Ian si badan tambun yang paling suka makan mie instan dan nonton blue film diantara sahabat yang lainnya hanya Ian lah yang masih belum lulus kuliah. Dan terakhir Riani, cewe paling cantik diantara ke empat cowo-cowo, seorang project leader sebuah perusahaan EO paling hobi makan kuah mie jika Ian makan mie instan.

Kebiasaan selalu ngumpul bareng, nonton bareng, nongkrong bareng tak pernah terlewatkan oleh kelima sahabat ini, mereka adalah lima serangkai tak terpisahkan. Menjalin persahabatan selama lebih dari 10 tahun, mereka tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa alpa untuk bertemu. Sebuah keakraban dan persahabatan yang sangat manis. Tapi, meski sudah melebur dalam satu ikatan emosional persahabatan, kelima karakter tersebut tetap memiliki perwatakan dan jalan hidup sendiri. Dan kelima sekawan tersebut tetap memendam kegelisahan masing-masing.

Setidaknya hal itu dirasakan oleh Genta dan kawan-kawannya, Genta akhirnya mengusulkan agar setidaknya selama 3 bulan, mereka tidak usah bertemu satu sama lain. Genta merasa perlu untuk memberikan ruang pribadi kepada masing-masing mereka agar lebih memaknai arti persahabatan dan kehidupan. Genta menyarankan agar dalam perpisahan selama 3 bulan tersebut, mereka tidak menjalin komunikasi dalam bentuk apapun. Entah itu telepon, layanan pesan singkat ataupun segala jenis komunikasi lainnya.

Akhirnya ke lima sahabat ini menjalani aktivitasnya masing-masing, Genta dan Riani dengan kesibukannya di EO, Zafran dengan kesibukannya mengejar cintanya Dinda, adik semata wayang Arial. Arial tetap lanjut dengan kesibukannya di tempat fitnes dan Ian sibuk menyelesaikan studinya yang tertunda. Mereka larut dengan kesibukannya masing-masing, walaupun mereka saling kangen satu sama lain.

Di akhir 3 bulan masa “hibernasi” tersebut, Genta menjanjikan suatu kejutan yang akan membuat makna persahabatan mereka melangkah menuju sebuah jenjang pemahaman baru. Genta lalu mengajak para sahabatnya mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru. Dalam upaya menginjakan kaki di Gunung Semeru, kelima sahabat ini kedatangan seorang anggota baru, yaitu Dinda (Pevita Pearce) adik semata wayang Arial.

Lalu dimulailah perjalanan keenam sahabat tersebut dalam memulai babakan baru dalam kehidupan mereka. Dengan mantra 5 cm nya Zafran, “Gantunglah Mimpi di depan Keningmu. Kalau sudah begitu, mereka percaya bahwa semestinya: kaki untuk berjalan lebih jauh, tangan untuk berbuat lebih banyak, mata yang menatap lebih lama, leher yang lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang bekerja lebih keras, serta mulut yang selalu berdoa. Akhirnya berhasil berada di tahah tertingggi di pulau jawa, Puncak Mahameru, puncak abadi para dewa, yang membuka mata dan hati mereka akan arti kehidupan mereka yang sebenarnya dan bertambahnya kecintaan terhadap negeri Indonesia…

Written by Priyatno Nugroho

09/01/2013 at 10:01

Posted in Coretan

%d bloggers like this: