Nugroho Technology

Menggali Makna Dalam Setiap Kata

Mari Bicara Sejenak tentang Rasa Sepi Seorang Ibu

leave a comment »

Foto : rangtalu.wordpress.com

Sebuah ungkapan terimakasih yang tak berujung untuk ibu…ibu…dan ibu..yang selama ini telah mengajarkan arti cinta. Engkau lah madrasah cinta ku, Engkaulah sekolah yang punya satu mata pelajaran yaitu “Cinta”, sekolah yang hanya mempunyai satu guru yaitu “Pecinta”, sekolah yang semua mudinya hanya diberi satu nama yaitu “Anaku Tercinta”…

Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak terbatas. Meskipun terkadang cinta itu tak berbalas. Atas nama cinta, apa pun akan dia jalani asal kebutuhan anaknya terpenuhi. Apapun akan diusahakan, asal keinginan anaknya terwujud. Apapun akan dia lakukan asal anaknya bisa sukses dan berhasil. Itulah energi cinta dari seorang ibu.

Energi itu begitu kuat. Tak jarang, seorang ibu kemudian harus melakukan semua itu sendiri. Tanpa kehadiran suami yang menemani, karena dipisahkan oleh ajal misalnya, atau oleh sebab yang lain. Berat itu pasti. Tapi cintanya yang sangat besar akan mengalahkan semua kesulitan dan rintangan. Tekadnya yang demikian besar terbangun, sehingga lahirlah anak-anak yang sukses dalam hidup dan kariernya, berkat sentuhan cinta dan pengorbanannya, meski semua dilakukannya berselimut derita dan rasa sepi.

Ibu kita mungkin menjadi salah satu perempuan yang merasakan kesepian itu dalam mendidik anak-anakanya. Kita, dan beberapa orang saudara kita barangkali hari ini semua telah menjadi orang-orang berhasil, punya pendidikan yang tinggi, menduduki sebuah jabatan penting, atau mengelola sebuah bisnis besar.

Mari kita kenang sejenak rasa sepi ibu waktu itu, di mana terkadang dia harus menutupinya dengan sebuah ‘kebohongan’ untuk mengalihkan perhatian kita, agar ia tidak tampak lelah mengurus dan membesarkan kita.

Seorang anak yang telah dewasa menuliskan kisah masa kecilnya kala bersama ibunya, yang tak pernah kenal lelah bekerja untuk dirinya dan adik-adiknya. Saat itu mereka hidup dalam keadaan amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika sedang makan, ibunya seringkali memberikan bagian nasinya untuknya. Sambil memindahkan nasi ke piring anaknya, si ibu berkata, “makanlah nak, aku tidak lapar”. Dia baru tersadar bahwa saat itu ibunya’berbohong’.

“Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan”, tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali ‘berbohong’. Saat aku duduk di bangku SMA, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaan itu.

Saat itu aku terenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukkan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang menasehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu ‘berbohong’.”

Perjuangan membesarkan anak adalah hari-hari yang penuh rasa sepi, dengan kesulitan yang terkadang belum bias kita cerna saat itu, atau mungkin hingga hari ini. Namun kita tak pernah mencoba untuk mengingatnya, untuk sekadar mengenang jasa manusia agung itu, yang telah memberikan segalanya untuk kita.

Rasa Sepi Ketika Ditinggal Anak-anaknya Merantau

Setiap anak pada akhirnya akan menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Dan karena itu, terkadang kita terpaksa meninggalkan kedua orang tua untuk mencoba melepaskan diri dari ketergantungan kepada mereka. Ketika beranjak remaja atau dewasa, kita pergi merantau kemana saja untuk tujuan apapun; menuntut ilmu, mencari rezeki, mengadu nasib, dan sebagainya.

Berawal dari sini, rasa sepi pun muncul di relung hati seorang ibu. Anak yang sedari kecil diasuh penuh cinta, ditimang-timang dan dibesarkan, pergi jauh dari sisinya. Tak sanggup ia melarang, karena hidup memang harus berubah dan berkembang. Ia lalu merelakan anaknya pergi merantau.

Mungkin kita adalah salah seorang anak yang telah membuat ibu merasa sepi, karena meninggalkannya untuk sementara demi mengejar cita-cita di negeri rantau. Hari ini, entah di manapun kita berada, mari sejenak bicara tentang rasa sepi ibu yang terus menyimpan cinta dan kasihnya pada kita sampai kapan pun. Mari sejenak kita merenungkan keadaannya, di kala kita sedang jauh dari sisinya. Apakah yang sedang dia lakukan? Mungkinkah saat ini, ia sedang duduk menghabiskan waktu sambil memandangi kali di depan rumah, yang dahulu selalu menjadi tempat bagi anak-anaknya menghabiskan waktu, berenang dan bermain hujan. Mereka saling dorong menceburkan did ke dalam air? Atau entah apa lagi yang ibu lakukan untuk mengusir kesendirian dan rasa sepinya yang tak kunjung berakhir.

Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita sampai kapan pun. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melempar ingatannya ke masa-masa lalu yang indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yang menggores kesan indah di hatinya.

Suatu sore di sebuah toko perbelanjaan, seorang lelaki muda yang sedang belanja bertemu dengan seorang perempuan tua yang terus memandangnya dengan mata tak berkedip. Lelaki itu merasakan keanehan dari tatapannya. Dia terus berjalan sembari mencari-cari barang yang hendak dibelinya, tapi tatapan si perempuan tua seperti terus mengikutinya.

Setelah mendapatkan barang belanjaannya, lelaki tersebut berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Akan tetapi tiba-tiba perepuan tua tadi memotong langkahnya dan berdiri di depannya. “Maafkan nak,” kata perempuan itu. “Ibu minta maaf atas tatapan ibu tadi. Ibu tidak bermaksud apa-apa, hanya saja wajak anak ini mirip sekali dengan wajah anak saya yang suda lama pergi dan belum pulang sampai sekarang.”

Mendengarkan cerita si perempuan tua, ia pun mengerti kenapa tatapannya begitu tajam kepadanya. Rasa kasihan pun muncul di hatinya. “Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu?” tanya anak muda itu, menawarkan bantuan kepada si ibu.

Setelah sejenak terdiam, si ibu menjawab, “Ada satu permintaan saya, kalau anak memang tidak keberatan.”

“Apa itu, Bu?” tanya si anak muda.

“Nanti kalau anak sudah mau keluar, tolong lambaikan tangan dan ucapkan ‘dadah’ buat ibu. Karena itulah yang selalu dilakukan anak ibu ketika akan pergi meninggalkan ibu. Mudah-mudahan dengan itu rasa rindu ibu kepada anak ibu bisa terobati.”

Selesai membayar barang belanjaannya, lelaki itupun melakukannya sembari melangkah pergi, membawa serta sebagian rasa sedih yang ada di hati si ibu.

Sederhana sekali permintaan si ibu. Tapi dengan itu, barangkali ada sejenak rasa sepi yang hilang dari hidupnya. Ibu kita mungkin saja menyimpan kerinduan seperti yang dirasakan perempuan tua itu terhadap kita. Tapi sayangnya, kita tak pernah menyadari dan membiarkan waktu terus berlalu tanpa mencoba mencari tahu. Karena itu, mari sejenak kita bicara di sini, tentang kesendirian ibu. Tentu agar kita teringat dan tersadar, serta kemudian mau sesekali mengobati rasa sepinya dengan rela meninggalkan kesibukan untuk sesaat pulang menemuinya, mencium tangannya.

“Copas dari sebuah artikel Majalah Tarbawi Edisi 219, 14 Januari 2010″

Advertisements

Written by Priyatno Nugroho

21/04/2011 at 22:09

Posted in Renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: