Nugroho Technology

Menggali Makna Dalam Setiap Kata

Kunjungan ke Desa Mandalamekar

with one comment

Saya dapet banyak cerita tentang sebuah desa yang sudah maju. Desa Mandalamekar, sebuah desa yang masih kokoh memelihara kearifan lokal namun melek informasi dunia luar. Pengelolaan informasi yang serba terbuka dengan memaksimalkan media informasi yang ada.  Akhirnya, Senin, 16 Juli pukul 16.00 saya di ijinkan oleh Allah untuk silaturahim ke sana. Kami berangkat dari rumah Pak Anas. Hanya saya ama mba Justina saja yang ke Desa Mandalamekar, Pak Anas harus mengurusi MTs Sangkali yang sedang masa MOPD. Perjalanan pun dimulai, melewati jalanan berkelok dari arah Cikatomas menuju Desa Mandalamekar via jalur Cipatujah. Sebetulnya ada akses jalan yang lebih singkat, lewat daerah Salopa, kab. Tasikmalaya, tapi karena medannya yang berbatu dan jelek, akhirnya kita lewat Cibalong. Desa Mandalamekar terletak di kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya. Akses jalan menuju ke sana membutuhkan perjuangan yang ekstra. Sebetulnya jarak tempuh menuju Desa Mandalamekar terbilang dekat, jika kondisi jalan bagus dari Cikatomas menuju Mandalamekar bisa ditempuh dalam waktu 1 jam, tapi karena kondisi jalan yang rusak mengakibatkan lamanya perjalanan menuju ke sana.

Jembatan gantung untuk menuju Desa Mandalamekar
foto by Me

Pukul 17.50 kami sudah sampai di pemandian air panas daerah Cibalong. Sudah ada dua motor yang  standby untuk mengantarkan kami ke Desa Mandalamekar. Setelah istirahat beberapa menit, akhirnya kami langsung berangkat. Motor yang mengantar kami dengan lincah menaiki dan menuruni jalan setapak yang di lapisi beton dan hanya cukup untuk dilewati oleh dua motor. Suara binatang malam dan serangga khas pedesaan mengiringi perjalanan kami. Untuk menuju desa Mandalamekar kami harus melewati jembatan gantung yang beralas bilah-bilah bambu sepanjang ± 10m yang di topang oleh besi baja seukuran jempol orang dewasa J. Dibawahnya mengalir aliran air dari sungai Ciwulan yang masih asri, di ujung jembatan inilah lokasi Desa mandalamekar. Selepas menyebrangi jembatan gantung, kami disuguhi dengan pemandangan pedesaan yang luar biasa. Sisi kiri dan kanan kami masih berupa pesawahan warga dan sesekali melewati hutan lindung yang dikelola oleh warga.

Sampai di sana kami langsung disambut oleh abah dan ambu, istirahat sebentar untuk melaksanakan shalat magrib, kemudian langsung menuju stasiun radio komunitas Ruyuk FM. Tidak lupa kami pun silaturahim ke rumah Pak Yana, Kepala Desa Mandalamekar. Obrolan pun mengalir deras kesana kemari, Pak Jeje, salah satu warga Mandalamekar menawarkan, “lain kali kalo ke sini agak lama kang, biar nanti saya ajak keliling-keliling desa plus outbond di hutan lindung”, Saya pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk J. Saya belajar banyak di desa ini, desa yang luar biasa. Desa yang masyarakatnya sudah openminded, desa yang tata kelola lingkungannya pun di akui oleh dunia internasional, desa IT (Information Technology) yang punya koneksi VSAT (Very Small Aperture Terminal) sehingga memungkinkan untuk berselancar ria di dunia maya, desa yang akses informasinya terbuka untuk umum melalui media website, namun tetap kokoh memelihara kearifan lokalnya dan desa yang memiliki radio komuntas Ruyuk FM.  Jika pembaca ada waktu, coba mainlah ke Desa ini 🙂

Bandung, 18 Juli 2012

Advertisements

Written by Priyatno Nugroho

01/08/2012 at 06:34

Posted in My Adventure

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. kapan ya semua desa kita bisa seperti desa Mandalamekar….?

    baheramsyah

    01/08/2012 at 07:10


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: