Nugroho Technology

Menggali Makna Dalam Setiap Kata

[CatPer] Perjalanan Menuju Dewi Anjani

leave a comment »

Mimpi ingin menginjakan kaki di tanah tertinggi ke dua di Indonesia akhirnya terwujud juga, walau dengan perjuangan yang ekstra :D.  Berawal dari obrolan singkat dengan teman di Bandung akhirnya aku memutuskan untuk ikut gabung di pendakian Gunung Rinjani. Meeting point di tentukan di Mataram dan akhirnya kita ketemu di rumah Mas Lalu Budi, rekan kang Adi dan Mas Ganar di Desa Sukarare, Lombok Tengah.

Rabu, 25 Desember 2013 dengan kondisi hujan rintik-rintik kami di antar oleh Mas lalu sampai pertigaan pasar Aikmel, di sini kami melengkapi perbekalan selama pendakian. Dengan menggunakan angkutan bak terbuka kami menuju Desa Sembalun Lawang yang merupakan desa terakhir sekaligus pos masuk Gunung Rinjani.

Puncak Gunung Rinjani terlihat gagah dari Desa Sembalun

Puncak Gunung Rinjani terlihat gagah dari Desa Sembalun

Sepanjang perjalanan mata kami di suguhi oleh pemandangan yang menyejukan mata, pepohonan di kanan kiri jalan, juga keramahan para warga sini. Ibu Jawariah yang satu angkutan bersama kami, memberi 3 buah mangga, ya….lumayan rezeki buat tambahan bekal perjalanan 😀

Pos Pendakian

Tepat pukul 10.00 WITA akhirnya kita sampai di pos pendakian, Kang Adi yang mengurus administrasi pendakian. Katanya sih tiket masuknya Cuma 2500 rupiah 😀  Dari sini pendakian di mulai, lewat jalur Sembalun memang lumayan menguras tenaga, jalur yang landai dan panjang, disertai dengan sedikit tanjakan. Jujur, mental ku di uji di sini, sempat muncul keraguan

“Sampe puncak gak ya??”  gumam ku dalam hati.

Persiapan yang kurang matang juga berpengaruh ke fisik ku, cpet capek dan habis nafas :p Alhasil aku banyak di tinggal-tinggal sepanjang perjalanan 😀

DSCN0749

Ketinggalan… 😀

Sampai di jembatan pertama, kami mengambil air untuk cadangan perbekalan kita. Lagi-lagi kang Adi yang ngurusin, sambil nunggu Kang Adi ngambil air, aku istirahat mulihin nafas yang masih hah…heh…hoh… :D. Setelah di rasa cukup, kita kembali melanjutkan perjelanan, kebetulan bertemu dengan para pendaki yang lain dan jadilah satu rombongan, lumayan nambah temen baru.

Ngambil Air...

Ngambil Air…

Pos 1 sudah di depan mata...

Pos 1

 

 

 

 

 

 

 

 

Pukul 13.00 WITA akhirnya sampai juga di Pos 1, kami memutuskan untuk istirahat dan sholat. Sambil istirahat di Pos 1 kami berbicang-bincang dengan beberapa pendaki yang baru turun. Seorang bapak separuh baya bercerita mengenai pengalamannya mendaki, frame tendanya patah di terjang badai, dan alhasil gakbisa muncak. Memang rata-rata para pendaki pendahulu kami tidak ada yang sampai puncak karena cuaca beberapa hari kebelakang selalu turun badai. Kembali mental di uji, “Sampai puncak gak ya???”.

Jalur menuju pos 2, landai tapi pasti :p

Jalur menuju pos 2, landai tapi pasti :p

Setelah istirahat cukup dan tenaga dirasa telah pulih lagi, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pos 2.  Trek menuju Pos 2 masih sama, landai dan sedikit menanjak. Sepanjang perjalanan aku masih berpikir “bisa sampai puncak gak ya…” ternyata kegalauan ku terbaca juga oleh Kang Adi, beliau menyarankan untuk kembali memperbaiki niat dan menguatkan mental. Yah…memang itu yang diperlukan ketika naik gunung. “mendaki gunung adalah sarana untuk mendekat kepadaNya, Bismillahitawakaltu Allalah, lahaula wala kuwata ‘illa billah” niat sudah dipancangkan, kembali tancap gas, tapi tetep jadi paling “boyot” masih saja i tinggal-tinggal oleh rombongan :p. Pukul 15.00 WITA kami sampai di Pos 2, istirahat sebentar langsung tancap gas lagi karena target kita camp di Pos 3.

Istirahat di Pos 2

Istirahat di Pos 2

Samar-samar warna warni tenda terlihat, akhirnya pukul 17.00 WITA aku sampai di Pos 3. Kang Adi dan Mas Ganar sudah sampai duluan, Aku istirahat mengatur nafas. Setelah nafas stabil kami membagi tugas, ada yang meratakan tanah, untuk alas tenda, ada yang beres-beres, ada yang ngambil air. Tenda sudah berdiri, dan kang Adi sudah asik memasak untuk ngasih makan cacing-cacing yang sudah protes sedari tadi :D. Kami ngecamp satu malam di Pos 3, untuk recovery kondisi badan yang sudah kelelahan. Selesai shalat dan makan, tanpa ba…bi…bu…kami langsung istirahat tidur.

Tenda-tenda Pos 3

======================

Matahari tanggal 26 Desember membangunkan kami, setelah selesai makan dan peregangan kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya Pos Plawangan Sembalun. Medan menuju Pos Plawangan Sembalun lumayan menguras tenaga ekstra, maka dari itu perbekalan dan kondisi fisik harus full.  Menuju Pos Plawangan Sembalun kita akan melewati bukit penyesalan yang ada 7 tanjakan kstrem katanya…

Tenda kami...

Tenda kami…

Jalur menuju Plawangan Sembalun

Jalur menuju Plawangan Sembalun

dinamakan bukit penyesalan karena menurut cerita setempat dulunya ada seorang pendaki lokal yang melewati bukit ini, karena teramat lelahnya pendaki ini mengatakan “nyesal saya naik gunung ini” alhasil pendaki ini tidak jadi meneruskan perjalanan dan kembali turun…kata2 pendaki ini ternyata menjadi buah bibir masyarakat setempat dan mulai saat itulah bukit ini dinamakan bukit penyesalan oleh penduduk setempat s/d saat ini.

Yap…bukit penyesalan ini memang sangat terkenal di kalangan para pendaki Gunung Rinjani.  Tidak ada bonus di track ini, semua jalur tanjakan. Seperti biasa aku kembali di tinggal 😀  Setelah perjuangan panjang, dengkul ketemu dengan dada akhirnya sampai juga di tanjakan terakhir. Pemandangan Danau Segara Anakan terlihat dibalik kabut. Rasa lelah tiba-tiba hilang setelah melihat ciptaanNya.

IMG_2379

Senyum getir di Danau Segara Anakan

IMG_2428

Danau Segara Anakan, kayak d lukisan gan… 😀

Kapan Mrene bro...

Kapan m’rene bro…

Aku istirahat sebentar dan mengambil beberapa momen, ternyata Pos Plawangan Sembalun masih sekitar 30 menit lagi dari tempat aku istirahat heu… Melihat tenda warna-warni membuat semangat untuk sampai Pos Plawangan Sembalun mengelora 😀

Pukul 14.30 WITA aku sampai  juga di Pos Plawangan Sembalun. Hilang sudah rasa capek ketika disuguhi pemandangan Danau Segara Anakan. Puncak Anjani terlihat gagah di belakang tenda kami. Tenda kuning berdiri, semua logistik dan tas kami masukan. Persediaan air menipis, seperti biasa kami membagi tugas kembali, aku dan Mas Ganar ngambil air dan Kang Adi masak.  Ternyata tempat untuk mengambil air jauh juga broooo… Kurang lebih 30 Menit dari tenda kami berdiri dengan jalur yang naik turun, belum sembuh kaki ini melewati  tujuh tanjakan di bukit penyesalan ternyata masih harus naik turun untuk ngambil air 😀

Tenda kami, tepat d belakang Puncak Anjani :)

Tenda kami, tepat d belakang Puncak Anjani 🙂

Pemandangan Danau Segera Anakan memanjakan mata kami, beberapa spot aku coba abadikan sambil bercengkrama dengan sesama pendaki lainnya….

===== Bersambung ====

Advertisements

Written by Priyatno Nugroho

09/02/2014 at 16:32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: